Petani Kapulaga Genjot Inovasi Pemasaran

By Admin

nusakini.com--Produktivitas kapulaga di Kecamatan Gumelar melimpah, namun hingga kini penjualan komoditas rempah tersebut relatif rendah. Karenanya perlu ada beragam strategi dan inovasi pemasaran agar pendapatan petani kapulaga meningkat. 

“Potensi kapulaga di wilayah Gumelar sangat bagus, tapi pendistribusian dan penjualannya tidak maksimal karena sebagian besar pemasarannya masih dikuasai tengkulak,” ujar Sukesih, salah seorang mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, saat dialog interaktif program “Ngopi Bareng Gubernur” di Balai Desa Gumelar, Kecamatan Gumelar,kemarin.

Mahasiswi jurusan teknik sipil yang tengah melaksanakan tugas kuliah kerja nyata (KKN) di Gumelar tersebut menjelaskan, selama ini rempah kapulaga menjadi komoditas unggulan di Gumelar dan sekitarnya. Bahkan pangsa pasar jenis rempah dengan nama ilmiah amomum compactum itu sangat terbuka lebar, baik di dalam maupun luar negeri. 

“Harga kapulaga basah di tingkat petani sekarang Rp 10 ribu per kilogram, kapulaga kering Rp 50 ribu per kilogram. Jika petani mampu mengolah serta mengemasnya lebih menarik, meningkatkan kualitas, dan strategi pemasaran tidak hanya konvensional, maka penjualan kapulaga akan meningkat,” terang gadis asal Kecamatan Baturaden ini. 

Atas potensi tersebut, Sukesih mengusulkan agar para petani mengolah berbagai produk berbahan dasar kapulaga, mengemas produk kapulaga semenarik mungkin, serta meningkatkan kualitas hasil panen. Selain itu petani membentuk koperasi supaya bisa memangkas jalur distribusi penjualan sehingga hasil panen tidak jatuh ke tangan tengkulak. 

Tidak kalah penting, menurutnya adalah inovasi dalam memasarkannya. Di antaranya menjual lewat media sosial sebagai sarana pemasaran produk yang efektif dan efisien. Selain menjadi media promosi yang murah, promosi daring (dalam jaringan) ini juga mampu menjangkau calon konsumen di pelosok nusantara bahkan penjuru dunia. 

“Kemasan produk kapulaga yang sudah ada saat ini kurang menarik. Plastik pembungkus masih biasa, teks penjelasan komposisi produk, serta tanggal kedaluwarsa yang tercantum di kemasan tidak jelas,” terangnya. 

Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP pun mengapresiasi usulan dan saran dari para mahasiswa terkait upaya mengatasi persoalan produktivitas dan pemasaran kapulaga. 

“Itulah tujuan KKN, mahasiswa tidak sekadar menerapkan ilmunya di masyarakat, namun juga belajar berbagai hal di masyarakat,” katanya. 

Berbagai strategi pemasaran harus diterapkan sebagai upaya memasarkan komoditas unggulan daerah masing-masing. Di antaranya upaya meningkatkan penjualan menggunakan teknologi kekinian seperti online. Dengan demikian beragam produk di desa kemudian didorong supaya penjualan meningkat karena memenuhi tiga aspek penting. Yakni nenyangkut kualitas, kuantitas, dan kemasan. (p/ab)